15 Mitos Pernikahan Yang Tidak Boleh Dipercaya

15 Mitos Pernikahan Yang Tidak Boleh Dipercaya

15 Mitos Pernikahan Yang Tidak Boleh DipercayaPerkawinan lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki. Benarkah? Inilah salah satu dari sekian banyak mitos yang dipercaya orang. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa lelaki yang menikah justru lebih bahagia daripada perempuan. Mereka lebih panjang umurnya dari yang tidak menikah. Wah, mitos semacam ini sering mengganggu dan membuat makin banyak orang enggan menikah.

Ingatlah, memercayai mitos berarti Anda akan salah informasi. Kalau salah informasi, Anda akan keliru mengambil keputusan. Nah, saat keliru mengambil keputusan maka hasil yang akan didapatkan pasti salah besar! Jadi, agar Anda tak terjebak dalam mitos-mitos seputar pernikahan, lebih baik ketahui dulu kebenarannya.

Pasangan Yang Sempurna

Tak ada seorangpun yang sempurna. Seperti kata pepatah, jangan menghabiskan waktu Anda untuk mencari orang yang sempurna.

Tapi carilah seseorang yang bisa menyempurnakan kehidupan Anda. Si dia mungkin tak seganteng Brad Pitt, tak sekaya Donald Trump dan rambutnya tak setebal Sharuk Khan. Tapi kesabarannya dapat membuat hati Anda tenang setiap saat. Itulah pasangan yang ‘sempurna’.

Menikah Membuat Kita Jadi Sempurna

Pasangan saling melengkapi satu sama lain, tapi tidak menjadikan pasangannya sempurna.

Percintaan Selalu Hidup Dalam Perkawinan Yang Baik

Hampir semua hubungan mengalami turun naik. Masalah sehari – hari dan tantangan hidup perkawinan sering menutupi perasaan romantis.

Jangan Naik Tempat Tidur Dalam Keadaan Marah

Alasannya memang masuk akal, buat apa meredakan pertengkaran hanya untuk semalam dan kemudian memulainya lagi keesokan hari? Lebih baik menyelesaikan semua permasalahan, tidur tenang, dan membuka hari baru dengan semangat baru.

Kami bilang: Sepakatlah untuk tidak sepakat sampai esok pagi. Terutama jika pertengkaran terjadi larut malam, belum ada jalan keluar, dan Anda sudah sangat mengantuk. Lagipula, tidak semua pertengkaran ada batasan waktunya, kan?

Saat Brooke Klien dari Rohnet Park, California, dan suaminya mengibarkan bendera putih sementara untuk pergi tidur, mereka malah dapat melihat permasalahan dengan lebih baik di pagi harinya. “Kami tidak begitu terperangkap dalam lingkaran emosional kami,” ujar mama dari bayi berusia 9 bulan ini.

Sejalan dengan hal itu, saling setuju untuk menunda menyelesaikan masalah justru akan mengikis sisi ‘tajam’ dari masalah tersebut. Rachel Kincade dari Fort Hood, Texas, bilang bahwa saat ia tak dapat menyelesaikan masalah dengan suaminya, mereka harus menghabiskan sehari kemudian dengan bersikap atau berkata-kata manis satu sama lain. “Di penghujung hari, kami begitu puas dengan pujian sehingga sudah tidak bisa marah lagi.”

Tentu saja, pergi tidur dengan amarah di dada, walaupun bukan hal yang baik, namun ada sisi positifnya juga, kok: “Sesekali tidur di kamar yang berbeda saat marah dengan pasangan, tidak masalah – hubungan kita juga akan baik-baik saja,” ujar David Wexler, Ph.D., pengarang When Good Men Behave Badly (juga papa dari dua anak yang telah menikah selama 24 tahun).

Punya Bayi Akan Mendekatkan Kita Pada Pasangan

Memiliki bayi adalah pengalaman bonding yang sangat kuat. Namun hal ini juga dapat menciptakan ketegangan dalam hubungan mama-papanya. Solusinya? “Delegasikan. Jika papa pintar dalam mengurus rutinitas menidurkan anak dan membiarkan mama mandi berendam, Anda dapat menaklukkan tantangan terbesar dari kehidupan menjadi orangtua,” ungkap Karen Reivich, Ph.D., seorang rekanan peneliti dari University of Pennsylvania’s Positive Psychology Center, salah satu penulis The Resilience Factor, dan – yang paling penting – ibu dari empat anak yang telah menikah selama 14 tahun.

Sangat membantu jika kita bisa ‘menghindari’ bayi kita beberapa hari sekali. Jika kencan malam formal membuat kening Anda berkerut, atau budget tidak mendukung, carilah pilihan lain yang lebih masuk akal. “Kami tidak meninggalkan rumah karena belum mampu membayar babysitter, namun setiap Rabu malam, setelah anak-anak tidur di kamar masing-masing, saya dan suami minum wine bersama-sama, sejauh mungkin dari kamar tidur mereka,” ujar Reivich.

Perkawinan Yang Bahagia Tidak Ada Konflik

Fakta: Memang, konflik yang tak kunjung selesai akan mengikis kebahagiaan. Namun, yang sangat bahagia pun tak lepas dari konflik. Tiap orang punya ketakutan dan impian yang berbeda. Dan mereka punya cara sendiri dalam menyelesaikan konflik. Yang tidak bahagia, akan saling menyalahkan dan menyakiti. Sedangkan yang bahagia, berusaha saling mengerti dan membantu mencari jalan keluar terbaik, tanpa saling menyakiti.

3 comments on «15 Mitos Pernikahan Yang Tidak Boleh Dipercaya»

Leave a Reply