pernikahan dini

Obrolan Anak dan Orang Tua Soal ‘Pacaran’ Bisa Cegah Pernikahan Dini

Psikolog anak Tika Bisono yang hadir pada acara diskusi di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan persiapan perkawinan di kalangan masyarakat Indonesia masih kurang. Hal tersebut ia katakan dalam rangka memberi masukan kepada BKKBN terkait program-programnya setelah akan menutup tahun kerja 2014. pernikahan dini

Tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia selain disebabkan oleh faktor kurang gizi dan sanitasi yang tidak memadai, faktor kawin di usia muda juga turut berkontribusi. Menurut Tika, BKKBN masih lemah memberikan pengetahuan untuk membicarakan masalah reproduksi bukan kepada remaja melainkan kepada orang tua yang memiliki anak remaja. pernikahan dini

“Memang sebenarnya yang salah selama ini saya melihat persiapan untuk masuk ke perkawinan masih kurang. Keluarga tidak melakukan tugasnya dengan benar menekankan anak saat masih remaja, dari masih pacaran harus bagaimana,” ujar Tika saat ditemui di kantor BKKBN, Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Selasa (23/12/2014).

Orang tua di Indonesia dikatakan oleh Tika masih enggan membicarakan masalah seksual, dan juga soal pacaran dengan anak-anaknya. Tabunya pembicaraan seputar seks, meskipun tujuannya untuk pendidikan, menghalangi transfer nilai yang sebenarnya penting. Tanpa informasi memadai, remaja akan coba-coba sehingga terdorong melakukan seks berisiko. Akibatnya terjadi kehamilan ataupun perkawinan di usia dini. Padahal aneka risiko menghantui perempuan yang hamil di usia terlalu dini.

“Kalau pacaran itu apa sih yang harus dilakukan dan juga orang tuanya berbagi waktu dulu mereka seperti apa. Jadi filosofi-filosofi pacaran dan persiapan jika ingin menikah ini yang tidak pernah dibicarakan sama orang tua. Secara tradisional hal-hal ini tidak pernah diobrolkan,” kata Tika.

Dalam diskusi, ia meminta BKKBN untuk mengatasi hal tersebut karena program Keluarga Berencana (KB) saja tidak cukup untuk mengatasi angka kematian ibu yang masih tinggi.

“Aku sendiri terus terang nyuruh BKKBN, nyuruh loh ya bukan mengimbau lagi. Ada hal-hal yang harus dikembalikan ke keluarga sebelum program KB dijalankan,” tambah Tika.

Sebelumnya sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Dr Imam Prasodjo, PhD, juga mengatakan hal serupa terkait kesiapan keluarga. Imam menyarankan agar diberikan pelatihan kepada para calon orang tua tentang bagaimana membangun keluarga yang baik.

“Kalau perlu buat ada kelasnya khusus atau masukan sekalian ke dalam kurikulum,” ujar Imam saat ditemui di acara yang sama.

(vit/vit)